AL-QUR'AN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Al-Qur'an (
ejaan KBBI:
Alquran, Arab:
القرآن)
adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an
merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi
manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad

,
melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan sebagai wahyu pertama yang
diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat
Al-'Alaq ayat 1-5.
Al-Qur'an ada 4 perkara
1. Al Qur'anul Majid :
Itu
cocok benar dengan barangnya, yaitu Al Qur'anul Majid, artinya Al
Qur'an yang ada tulisannya, karena terbukti ada hurufnya, yang umum suka
di baca oleh semua kaum islam.
2. Al Qur'anul Karim :
Artinya
Al Qur'an yang MULIA, setegasnya yang namanya Al Qur'anul Karim itu
buktinya TANGAN, berkat jari jemarinya, jadi setegasnya yang nulis
adalah tangan dan jari jemari, karena jalan itu tulisan ( huruf-huruf Al
Qur'an ) berasal dari tangan dan jari jemari yang menulis, jadi kalau
begitu sebenarnya yang mulia itu adalah TANGAN BESERTA JARI JEMARI yang
mula-mula menulis Al Qur'an itu, coba pikirkan siapakah yang mula-mula
mengadakan Al Qur'an itu ? Masa iya tidak dapat di mengerti, itulah
sebenarnya yang mulia.
3. Al Qur'anul Hakim
Artinya
Al Qur'an yang AGUNG, buktinya adalah PENGLIHATAN, karena tangan
beserta jari jemarinya tidak akan bisa menulis kalau tidak ada
penglihatan. Jadi setegasnya yang Agung adalah PENGLIHATANNYA, yang
mula-mula mengadakan Al Qur'an itu.
4. Al Qur'anul Adim
Artinya
Al Qur'an yang SUCI dan KEKAL, yaitu buktinya HIDUP, karena
Penglihatan, Tangan serta Jari Jemari tidak akan bisa menjadikan apa-apa
kalau tidak ada Hidupnya, jadi setegasnya yang Suci dan yang Kekal
adalah HIDUPNYA yang mula-mula mengadakan Al Qur'an itu.
Oleh
karena itu kita sekarang mengaji, kalau ingin sampai kepada sucinya dan
kalau ingin sampai ke sempurna. Al Qur'an yang empat perkara itu harus
dibaca dan dikaji semuanya, pertama-tama kita harus mau membaca Al
Qur'anul Majid, yaitu AL QUR'AN MAJAJI, yang ada tulisannya/yang ada
hurufnya, nah itu adalah bagian ILMU SAREAT, setelah dibaca harus terus
dikaji, yaitu harus diartikan maksudnya, setelah dapat dimengerti
maksudnya, segeralah cari dan kerjakan TAREKATNYA, supaya terasa, sebab
AL QUR'ANUL MAJID itu adalah petunjuk jalan untuk mengetahui kepada
Allah dan Rasulullah. Jalannya tidak ada lain kecuali dengan Tarekat,
yaitu dengan AL QUR'ANUL KARIM, artinya harus mau mengkaji, PEKERJAAN
TANGAN ( segala pekerjaan yang dilakukan oleh tangan ) begitu pula jari
jemari kita, yang sekiranya akan sampai kepada Allah dan Rasulullah,
karena Allah Ta'ala telah memberi tangan dan jari jemari kepada manusia,
bukan untuk sekedar dipakai menjadikan barang-barang dunia yang terkena
rusak saja, tetapi harus dipakai pula untuk menjadikan jalan untuk
mengetahiu kepada Allah dan Rasululloh, supaya tangan dan jari jemari
kita menjadi mulia
Dari
AL QUR'ANUL KARIM harus naik lagi kepada AL QUR'ANUL HAKIM yaitu bagian
ILMU HAKEKAT, yaitu kita harus mau mengkaji pekerjaan penglihatan kita,
yang sekiranya bakal HAKIM ( mengetahui ) kepada barang kekal, yaitu
kepada hakekatnya ALLAH dan MUHAMMAD, karena Allah Ta'ala memberi
tajamnya penglihatan kepada manusia, bukan hanya sekedar untuk dipakai
melihat kepada barang-barang yang baru saja, yang bisa terkena rusak
namun harus pula dipakai mengetahuhaekatnya Allah dan Rasulullah disebut
dengan AL QUR'ANUL ADIM yaitu Al Qur'an yang kekal HIDUP, bibit dari
pada tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit beserta isinya. Nah dari
sanalah kita juga asalnya, jadi setegasnya yang namanya Ma'rifat Kepada
Allah, yaitu yang sudah mengetahui dibarengi dengan keyakinan kepada
Hakekatnya ALLAH dan MUHAMMAD tegasnya yang disebut dengan JOHAR AWAL.
Namun
hati-hati jangan sampai keliru, menetapkan Johar Awal itu kepada
terangnya sinar matahari yang dapat dilihat oleh mata kepala, kalau itu
Johar Pirid namanya, bagian Swarga Loka ( Dewa ), tempatnya di Puncak
Gunung Himalaya.Perkara Johar Awal yang sejati, yaitu yang disebut pula
dengan Johar Latif tegasnya Go'ib, tidak bisa terlihat oleh mata kepala,
sesuai dengan dalilnya yang berbunyi begini :
“Bu'yalullohi ta'ala fi-dunya bi-laenil qoibi”
Artinya
:”Melihat hakekatnya Allah Ta'ala di dunia dengan tajamnya penglihatan
mata hati, tegasnya dengan hakekatnya Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi
Wasallam”
.
Karena yang namanya orang tidak akan ada yang
bisa Ma'rifat kesana karena orang hanya sekedar dipakai tempat untuk
melihat kepada Rasululloh dan Allah Ta'ala. Setiap-tiap wujud kita sudah
bisa dipakai sebagai tempat untuk melihat kepada Rasululloh dan Allah
Ta'ala. Tentu tangan dan jari jemari kita akan bisa menceritakan
bahwasanya sudah mengaku mengetahui kepada Allah Ta'ala, disebabkan
sudah diberitahu oleh Rasululloh. Jadi kita ini hanya terbawa tahu,
terbawa nikmat oleh Rasululloh di dunia sampai ke akherat, tidak akan
salah lagi karena sudah tetap menjadi umatnya, sebab dari sekarang sudah
merasa tidak berpisahnya dengan Rasululloh, dikarenakan siang malam
wujud kita tetap dipakai oleh Rasululloh, untuk melihat kepada Allah
Ta'ala. Tiap-tiap sudah merasa bersama-sama dengan yang Maha Suci, baik
siang maupun malam Insya Allah tekad dan perbuatan kita lama-kelamaan
akan terasa suci dan sudah tentu setan-setan tidak akan mau mendekati.
Namun
begitu juga kalau kita bisa Ma'rifat dibarengi dengan Tauhidnya kalau
tidak dengan Tauhidnya tentu akan salah juga, walaupun sudah mempunyai
Tarekatnya, karena tidak merasa takut, tidak merasa malu, tenang saja
tekad dan perbuatannya tetap semena-mena, jadi kalau begitu Ma'rifatnya
disebut dengan Ma'rifat Nikung ( menyeleweng ), tentu di dunia tidak
akan mendapat Syafa'at dari Rasululloh, di dunianya tidak akan luput
dari pada kesusahan, karena dibenci oleh Allah Ta'ala, atau tidak
diridhoi oleh yang Maha Suci. Seumpama lampu yang ditutupi dengan kaca
yang kotor, sudah tentu keluarnya juga menjadi gelap, karena kalau kita
ingin dekat dengan yang Maha Suci, kitanya juga harus suci, harus saling
mensucikan, suci isinya, suci kulitnya, baru dunianya tidak akan luput
dari segala kenikmatan, di akherat juga begitu.
Oleh sebab itu
kita harus waspada sekali, terutama bagi yang sudah mempunyai jalan
kema'rifatan, tekad dan perbuatan buruk harus dijaga benar-benar,bukan
hanya sekedar mengetahui saja, tetapi harus dibarengi dengan
pengamalannya dan tekadnya harus baik, sebab kalau kita melakukan
perbuatan maksiat, dan melanggar hukum syara', tentu kita akan cepat di
hukum oleh yang Maha kuasa, yang lebih berat hukumannya di bandingkan
dengan yang belum Ma'rifat, seperti di dunia juga seumpama orang kampung
mencuri ayam hukumannya hanya sekedar didenda atau dipenjara ( dikurung
) selama seminggu, tetapi seumpama seorang Camat mencuri ayam, tentu
akan lebih berat lagi hukumannnya, selain dari pada dicopot jabatannya,
ditambah dengan dihukum dua sampai tiga kali lipat, dari pada si orang
kampung tadi hukumannya, dikarenakan sudah mengetahui kepada Artikelnya,
apalagi bagi yang sudah mengetahui kepada Allah Ta'ala, harus ingat
kepada perjanjian Guru SEJATI, ibadah bersama-sama, durhaka berpisah.

•[SURAH-SURAH]•
•[DONASI]•
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an,
http://sunaranom.blogspot.com/2013/03/alquran.html